Hutan Mangrove Wonorejo - Mencari Kesejukan di Tengah Kota Metropolitan

Hutan Mangrove Wonorejo. Kota Metropolitan cenderung dengan cuaca yang panas dan polusi. Nah, kondisi ini tentu membuat banyak masyarakat di kota metropolitan mengasingkan diri sejenak sambil menikmati akhir pekan. Namun siapa yang menyangka kalau di kota metropolitan seperti Surabaya, ada tempat untuk menyejukkan diri yaitu di wisata hutan mangrove.
hutan mangrove wonorejo
Hutan Mangrove Wonorejo
Hutan mangrove ini terletak di Jl.Raya Wonorejo, kecamatan Rungkut, Surabaya. Untuk mencari lokasinya tidak begitu sulit. Jalan menuju ke lokasi tidak jauh dari keramaian dan akses jalan sudah cukup mudah untuk dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

Di area sekitar 200 Ha ini merupakan tempat bagi beragam spesies hewan yang dilindungi. Lokasi wisata hutan mangrove ini masih dalam tahap pengembangan pemerintah setempat dan setiap hari, tak jarang wisatawan dari berbagai daerah mengunjungi salah satu tempat sejuk di tengah kota Pahlawan ini.
Dengan tempat parkir yang luas dan pendopo di bagian depan, pengunjung bisa beristirahat atau langsung menyusuri hutan mangrove. Jembatan kayu akan membimbing pengunjung untuk menyusuri hutan bakau. Menyusuri hutan bakau bisa dilakukan dengan berjalan kaki di jembatan maupun menaiki kapal yang ada di dermaga dengan tarif yang diberlakukan.
hutan mangrove wonorejo
Jembatan Hutan Mangrove
Di jembatan kayu ini, ada papan informasi mengenaui jenis-jenis satwa yang hidup di hutan mangrove. Pengunjung bisa juga menyaksikan penanaman bibit bakau di sekitar jembatan. Di ujung jembatan kayu ada sentra makanan dan minuman yang cocok untuk beristirahat dari lelahnya perjalanan di sebelah dermaga. Jika masih belum puas, pengunjung bisa menyusuri hutan mangrove menggunakan kapal.
hutan mengrove wonorejo
Dermaga Hutan Mangrove
Kapal akan mengantar pengunjung menyusuri sungai menuju hutan mangrove yang terdalam. Kapal akan menyusuri hutan bakau sepanjang 5 kilometer. Jika beruntung, pengunjung bisa menemukan jenis-jenis burung di sekitar hutan. Setelah terlihat lautan lepas, kapal akan berputar balik menuju dermaga.

Beberapa fasilitas sudah ada di lokasi seperti tempat parkir, MCK, mushola, pendopo, gasebo, pos keamanan, pusat informasi dan beberapa warung.
Hutan mangrove ini merupakan benteng dari abrasi air laut. Wisata ini adalah salah satu nuansa alam di kota Surabaya dan bisa menjadi solusi untuk menghindari polusi yang disebabkan padatnya pabrik-pabrik industri.

Baca Juga :

Pantai Peh Pulo - Menyibak Gugusan Pulau Karang yang Menawan

Pantai Pasir Putih Peh Pulo. Bagi para penikmat pantai tentu bahagia jika mengunjungi pantai indah dan menawan apalagi dengan adanya pemandangan unik yang bisa dinikmati. Pantai dengan gugusan pulau karang yang menawan tidak hanya bisa dinikmati di Raja Ampat saja. Blitar mempunyai wisata pantai yang sangat indah untuk dinikmati khususnya pantai yang disebut-sebut sebagai Raja Ampat'nya Blitar, Pantai Peh Pulo.
pantai peh pulo
Pantai Peh Pulo
Pantai Peh Pulo terletak di Desa Sumbersih, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar. Berada sekitar 40 kilometer dari pusat kota Blitar dan bisa ditempuh sekitar 1 jam dengan motor. 

Untuk menuju Pantai Peh Pulo (8°21’6″S 112°14’22″E) dari kota Blitar yaitu langsung menuju ke Lodoyo dan ikuti arah menuju Pantai Serang. Dari pertigaan beringin Panggungrejo ikuti rute ke Desa Sumbersih. Kawasan bukit dan hutan akan menjadi pemandangan yang bisa disaksikan di sepanjang jalan makadam yang berliku.

Pantai Peh Pulo tidak terlalu lebar namun menyajikan pemandangan yang luar biasa. Pulau-pulau karang menyembul gagah dari tengah laut, dengan warna biru cerahnya. Pantai ini sangat bersih dengan dihiasi pasir putih yang lembut, berbeda dengan pantai yang memiliki pasir putih bercampur kerang-kerang laut. 
Selain menyaksikan keindahan di pesisir, bisa juga menikmati keindahan pantainya dari atas bukit. Pantai Peh Pulo sangat menawan jika dinikmati dari atas bukit. Banyak perbukitan dengan sudut pandang berbeda bisa dijadikan lokasi yang pas untuk mendapatkan view menarik di Pantai Peh Pulo.

Ingin menikmati Peh Pulo dari sisi yang lain?, berjalanlah ke arah kiri, ke arah jalan setapak melipir bukit di sebelahnya. Dengan berjalan sekitar 15 menit, ada sebuah lokasi Pantai Peh Pulo  yang cukup sepi dan bersih dengan pasir putih yang lembut. Lokasinya tidak cukup luas namun sangat memuaskan untuk menghabiskan waktu berlama-lama menikmati kerasnya ombak khas pantai selatan.
pantai peh pulo
Sisi Lain Pantai Peh Pulo
Menikmati keindahan pantai dengan sudut yang berbeda ini juga harus penuh pengorbanan. Jalan yang tidak mudah, cuaca yang panas dengan sedikit pepohonan besar akan membuat kewalahan, apalagi hanya ada satu penjual makanan dan minuman di sekitar pantai. Bawalah topi atau pelindung kepala dari panas menyengat dan bekali diri masing-masing dengan makanan dan minuman. J

Gugusan pantai-pantai indah yang berhias pulau karang di tempat yang sunyi, sepi dan nyaman akan membuat siapapun tidak ingin beranjak dari tempat ini. Selain menyepi, mencoba camping di area tempat wisata Pantai Peh Pulo juga sangat menarik untuk dicoba.

Baca :
Pantai Parangtritis - Aura Mistis dengan Sunset Romantis
Pantai Tamban - Menikmati Sisi Lain Sendang Biru

Candi Penataran - Kompleks Candi Termegah dan Terluas di Jawa Timur

Candi Penataran Blitar. Mengenal sejarah lewat berbagai situs yang ditinggalkan merupakan hal yang menarik, terlebih jika cara mengenal situs purbakala tersebut menjadi mudah dengan dilakukannya pemugaran menjadi area wisata. Candi Penataran merupakan candi Hindu Siwaitis yang berada di Blitar, Jawa Timur. Candi Penataran yang disebut dengan Candi Palah sudah ada sejak Kerajaan Kediri hingga jaman kerajaan Majapahit. Kompleks Candi Penataran ini merupakan kompleks candi terluas dan termegah di Jawa Timur, sehingga menjadi tempat wisata di Blitar yang sangat populer.
Kompleks Candi Penataran
Candi Penataran berada di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Terletak di lereng barat daya Gunung Kelud, sekitar 12 kilometer ke sebelah utara Blitar.

Sejarah Candi Penataran

Candi Penataran diperkirakan dibangun sekitar tahun 1200 M pada masa Raja Srengga dari Kerajaan Kediri dan digunakan hingga era Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Wikramawardhana tahun 1415 M.

Dalam Prasasti Palah disebutkan nama asli Candi Penataran adalah Candi Palah yang dibangun tahun 1194 oleh Raja Srengga yang memerintah sekitar tahun 1190 hingga 1200. Candi ini dibuat sebagai candi gunung untuk menangkal bahaya yang disebabkan Gunung Kelud yang sering meletus. Candi Penataran juga digunakan untuk memuja Hyang Acapalat, perwujudan Siwa sebagai Girindra (raja penguasa gunung). Pemujaan ini pernah dilakukan Raja Hayam Wuruk dalam perjalanannya.

Pada kitab Negarakertagama, kesamaan nama Girindra dengan Ken Arok yang bergelar Girindra menimbulkan dugaan bahwa Candi Penataran adalah tempat perabuan Ken Arok.

Wisata Candi Penataran

Candi Penataran ditemukan kembali oleh Gubernur Jendral pemerintah kolonial Inggris  yang pernah berkuasa di Nusantara yaitu Sir Thomas Stamford Raffles. Seiring berjalannya waktu, kompleks Candi Penataran mulai mendapat perhatian dan dipugar kembali untuk tujuan wisata.
Wisata Candi Penataran merupakan wisata andalan di Blitar setelah Makam Bung Karno. Ketika memasuki area candi, dua arca Dwarapala akan menyambut pengunjung yang datang. Arca ini sering disebut Reco Pentung.

Melihat kompleks candi yang bersih, luas, sejuk dan area yang diselimuti rumput hijau menambah sensasi segar ketika memandang kompleks tempat wisata Candi Penataran Blitar ini. Di depan area masuk, tertulis sejarah singkat yang menjelaskan tentang seluk beluk Candi Penataran.

Bagian depan dari kompleks candi adalah Bale Agung yang diatasnya ada pelataran. Di setiap sisi anak tangga diapit juga oleh dua arca Mahapala. Di sebelah tenggara Bale Agung terdapat Pendopo Teras yang diperkirakan sebagai tempat meletakkan sesaji dalam upacara keagamaan. Pada bagian pelataran tengah ada dua arca Dwarapala yang lebih kecil. Bagian ini terbagi dua oleh tembok bata yang kini tinggal pondasinya saja.

Berikut adalah beberapa candi di kompleks tempat wisata Candi Penataran Blitar : 

1. Candi Brawijaya / Candi Angka Tahun
Candi Brawijaya, bangunan candi yang paling dikenal dalam kompleks Candi Penataran adalah nama lain dari Candi Angka Tahun. Berada di sebelah tenggara Pendopo Teras. Pada bangungan candi terdapat konogram yang menunjukkan tahun 1291 saka (1369 M). Di  bagian dalam terdapat arca Ganesha, itulah kenapa ada yang menyebut candi ini sebagai Candi Ganesha.
Candi Brawijaya

2. Candi Naga
Candi Naga hanya tersisa bagian kaki dan badan tanpa meninggalkan angka tahun. Relief pada Candi Naga menunjukkan prosesi Samudramanthana (pengadukan samudra) yang berasal dari Kitab Adiparwa dan Tantu Pagelaran. Inti dari kitab tersebut menceritakan kisah para dewa yang menarik naga untuk memunculkan amerta dari samudra.

3. Candi Induk
Pada bagian halaman belakang terdapat candi utama yag terdiri dari tiga teras tersusun. Tiap tangga diapit oleh dua arca Mahapala dan relief dinding candi mengambarkan cerita Ramayana. Struktur Candi Induk mirip punden berundak, berbeda dengan bentuk candi di Jawa Timur pada umumnya yang ramping dan tinggi. Candi Induk ini adalah kaki candi dan bukan wujud utuhnya. Waow... mungkin bentuk utuhnya lebih besar lagi, meski belum ada keterangan apakah Candi Induk ini memiliki atap. Pada dinding sebelah barat terdapat Prasasti Palah berupa lingga batu yang dibuat oleh Raja Srengga.
Candi Utama
Selain tiga bangunan candi di kompleks Candi Penataran, di bagian belakang juga terdapat kolam yang berada di dekat aliran sungai, disebut sebagai Patirtaan Penataran Dalam.Adanya patirtaan ini dikaitkan dengan tujuan akhir dari konsep ritual pada masa itu yaitu amerta, tempat penyatuan jiwa peziarah dengan dewa.


Kompleks wisata Candi Penataran ini cukup ramai di hari-hari biasa. Beberapa penjual makanan, minuman hingga souvenir berjajar di sepanjang gerbang masuk wisata hingga kompleks candi. Candi penataran adalah salah satu wisata sejarah budaya yang tentu sangat menarik untuk dikunjungi ketika berkunjung ke Blitar. 

Pendakian Gunung Arjuno 3.339 mdpl via Purwosari


Pendakian Gunung Arjuno via Purwosari. Gunung Arjuno dengan ketinggian 3.339 mdpl yang satu kompleks dengan Gunung Welirang, tergolong pendakian berat di Jawa. Pendakian Gunung Arjuno via Purwosari adalah salah satu jalur pendakian yang sangat menarik. Suasana mistis dengan berbagai situs peninggalan Kerajaan Majapahit dan tempat-tempat pemujaan bisa ditemukan di sepanjang jalur pendakian. Inilah kenapa pendakian Gunung Arjuno via Purwosari disebut sebagai pendakian spiritual.
Gunung Arjuno - Welirang
Jalur pendakian Gunung Arjuno via Purwosari dimulai dari Desa Tambak Watu, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. Dari Malang bisa dimulai dari Terminal Arjosari menuju pasar Purwosari dengan angkutan umum dan dilanjutkan menuju pos perijinan Dusun Tambak Watu. Rute dari Surabaya bisa menaiki bus tujuan Malang dan turun di kantor penggadaian. Untuk menuju ke basecamp bisa menggunakan ojek yang ada sepanjang malam dengan tarif sekitar Rp. 30.000 (negoisasi) dengan perjalanan kurang lebih 30 menit. 


Basecamp - Pos 1 Onto Boego

Pendakian Gunung Arjuno via Puwosari, dari Tambak Watu melanjutkan perjalanan menuju ke Pos 1 dengan jalan yang masih landai dengan pepohonan kopi di sekitar. Banyak persimpangan di jalur menuju pos 1 dan ikutilah pipa air yang ada. Jika tersesat jangan ragu untuk bertanya pada penduduk sekitar yang melintas atau bermalam sampai menunggu pagi. Onto Boego dengan ketinggian 1.300 mdpl merupakan salah satu Situs Pemujaan Sipitual Gunung Arjuno yang bisa pertama ditemui di jalur pendakian.


Pos 1 Onto Boego - Pos 2 Tampuono

Menuju pos 2, jalur pendakian Gunung Arjuno masih berupa tanah padat berkelok dan menanjak. Jalur sudah memasuki hutan dengan pepohonan besar yang rapat. Pos 2 berupa warung untuk melepas lelah dan beberapa gubuk yang biasa digunakan para peziarah. 

Gubuk yang berada tepat di pos 2 adalah petilasan Eyang Sekutrem. Di pos 2 ini terdapat Sendang Dewi Kunti untuk mengisi perbekalan air. Untuk menuju ke Sendang Dewi Kunti, ikuti jalan paving ke arah kiri dimana ada beberapa bangunan lagi sebagai tempat pemujaan dan juga gubuk untuk para peziarah.
Pos 2 - Tampuono

Pos 2 Tampuono - Pos 3 Eyang Sakri

Jarak dari pos 2 ke pos 3 tidak jauh, jalan menanjak yang santai akan membawa sampai ke pos 3. Ada papan berisi petunjuk jalan di pertigaan ketika hampir sampai di pos 3, ikuti jalan ke arah jalur pendakian Gunung Arjuno. Ada satu shelter di pos 3 yaitu petilasan Hyang Sakri.
Pos 3 - Eyang Sakri

Pos 3 Eyang Sakri - Pos 4 Eyang Semar

Selepas dari pos 3, jalur pendakian Gunung Arjuno mulai menanjak. Dari trek tanah akan berubah menjadi bebatuan dengan pemandangan alam pegunungan yang cukup indah. Di trek berbatu ini pohon-pohon besar mulai jarang. Sesampainya di atas, jalan mulai landai dan kembali masuk ke hutan dengan pepohonan yang rindang di sekitas jalan setapak.
Trek Landai Menuju Pos 4
Tak jauh di tengah hutan ada sebuah gubuk bernama "Rahayu" yang ditulis dalam aksara jawa. Meski sebagai tempat pemujaan para peziarah, gubuk ini cocok untuk tempat beristirahat karena lokasinya yang cukup teduh, sunyi, dan sejuk.
Pondok Rahayu
Selepas dari gubuk, jalur pendakian Gunung Arjuno tetap menanjak dengan trek berupa tanah padat yang didominasi akar-akar pepohonan dan batu-batu besar. Perjalanan akan sangat menguras tenaga sampai akhirnya menemukan pos 4 dengan beberapa gubuk seperti di pos 2. Di tempat ini juga terdapat sumber air.
Pos 4 - Eyang Semar
Ada Pondok Konservasi Treppa dan juga gubuk-gubuk lain yang bisa digunakan untuk beristirahat. Di bagian atas ada patung Eyang Semar dan sebuah tempat pemujaan dengan beberapa dupa yang masih tertancap di dekat patung Eyang Semar. Ini adalah Situs Pemujaan Gunung Arjuno yang dipercaya tempat moksa Eyang Semar.
Pemujaan Eyang Semar


Pos 4 Eyang Semar - Pos 5 Mangkutoromo

Perjalanan dari pos 4 ke pos 5 tidak cukup jauh, jalanan berupa tanah menanjak dan berbelok-belok hingga menemukan bangunan candi yang besar dengan punden berundak di bawahnya. Itulah petilasan Mangkutoromo. 
Baca Juga : 
Mangkutoromo adalah tempat camp favorit di sepanjang jalur pendakian Gunung Arjuno via Purwosari. Selain ada sumber air, tempat yang sangat luas dan gubuk untuk bermalam, ada beberapa tanaman yang bisa dimasak seperti paku-pakuan, jamur, dan lain sebagainya.
Jangan ragu untuk bertanya, berbincang atau meminta bantuan dengan penjaga hutan Mangkutoromo yaitu Pak Parto yang tinggal di gubuk sebelah kiri petilasan. Bapak dengan gaya khas aki-aki di jaman Kamandanu yang memiliki pusaka panah Arjuno ini tak akan segan memberi petunjuk bagi para pendaki. Ada beberapa anjing hutan di sekitar Mangkutoromo. Namun tenang, anjing jinak ini adalah peliharaan Pak Parto.
Pusaka Panah Arjuno
Ada Mitos Gunung Arjuno yang perlu diketahui sebelum melanjutkan pendakian, seperti beberapa pantangan yaitu, jika jumlah ganjil maka haruslah membawa tongkat, tidak menggunakan pakaian berwarna merah dan untuk wanita yang sedang haid lebih baik tidak melanjutkan perjalanan. Meski ada beberapa Tips Melakukan Pendakian di Masa Haid, prosedur pendakian Gunung Arjuno via Purwosari melarang hal tersebut karena berhubungan dengan hal mistis.
Sebelum melanjutkan perjalanan, cukupkan perbekalan air karena sumber air terakhir hanya ada di Mangkutoromo.

Pos 5 Mangkutoromo - Pos 6 Candi Sepilar

Selepas dari Mangkutoromo, jalur pendakian Gunung Arjuno berupa punden berundak yang lumayan tinggi dan cukup membuat ngos-ngosan. Sampai diatas akan menjumpai Candi Sepilar yang bentuknya mirip dengan petilasan Mangkutoromo namun lebih kecil.

Pos 6 Candi Sepilar - Pos 7 Jawa Dipa

Trek mulai menanjak di tengah hutan yang didominasi pohon pinus. Tidak ada tempat datar di sepanjang jalur pendakian hingga sampai di Pos 7. Pos 7 - Jawa Dipa, adalah lokasi camp favorit setelah Mangkutoromo. Meski tidak ada sumber air, lokasi ini cukup luas untuk membuat 4-5 tenda. Siapkan stamina di pos Jawa Dipa ini karena selepas Jawa Dipa, trek akan membutuhkan tenaga yang sangat ekstra.
Pos 7 - Jawa Dipa
Trek Menuju Bukit Penyesalan


Pos 7 Jawa Dipa - Plawangan

Selepas Jawa Dipa, tidak ada ampun untuk trek yang akan dilalui menuju Plawangan. Trek yang sangat menanjak tanpa bonus di tengah hutan pinus akan sangat melelahkan. Trek tanah yang padat sesekali akan menjadi trek bebatuan dengan kemiringan tinggi. Ini adalah trek terpanjang yang dinamai bukit penyesalan dimana ketika sampai di atas, masih ada bukit yang harus didaki lagi. Ini adalah trek pendakian Gunung Arjuno yang paling menguras tenaga.
Plawangan


Plawangan - Puncak

Semakin dekat ke Plawangan, jalur pendakian lumayan landai dan tinggal mengikuti jalur ke kiri memutar bukit hingga sampai di Plawangan. Plawangan adalah pertigaan dimana ada petunjuk arah untuk ke puncak Gunung Arjuno dan jalur Pendakian Gunung Arjuno via Lawang. Ada beberapa tempat datar yang bisa digunakan untuk beristirahat atau membuat tenda kecil maupun shelter, lokasinya ada di sekitar jalur ke arah puncak.

Dari Plawangan ke Puncak Gunung Arjuno, jalur masih menanjak dengan pepohonan cantigi yang mulai mendominasi area. Ada beberapa tikungan dan ikuti jalur ke kanan, ke arah puncak.

Tidak dibutuhkan waktu lama, ketika sampai pada daerah bebatuan, puncak Ogal Agil sudah nampak dan hanya dibutuhkan waktu sekitar 10 menit mendaki bebatuan hingga sampai di Puncak Gunung Arjuno. Di puncak tampak Gunung Welirang dan juga Gunung Semeru.


Tips Pendakian Gunung Arjuno via Purwosari :
  1. Terdapat air di sepanjang jalur hingga Mangkutoromo, tapi jika musim kemarau, air terbatas dan hanya bisa ditemukan di pos tertentu seperti di Pos 2 - Tampuono dan Mangkutoromo. 
  2. Ada warung di Pos 2 - Tampuono, yang cocok untuk beristirahat.
  3. Jangan merusak tempat pemujaan atau situs yang ada di sepanjang jalur pendakian.
  4. Lokasi camp yang strategis adalah di Mangkutoromo karena ada shelter dan sumber air. Tidak ada salahnya jika ingin camp di Jawadwipa untuk mengejar waktu summit.
  5. Hormati peraturan yang ada di sepanjang jalur pendakian, mengingat purwosari adalah jalur pendakian spiritual yang berhubungan dengan hal mistis.
  6. Jika cuaca buruk, segera turun dari puncak karena rawan sambaran petir, atau bisa menunda waktu ke puncak.
  7. Jika ingin lintas jalur, ada sedikit tempat datar di dekat Plawangan untuk mendirikan tenda.
"Tim Kiro-kiro" di Puncak Arjuna
Itinerary Pendakian Gunung Arjuno via Purwosari :
Basecamp - Pos 1 : 1 jam
Pos 1 - Pos 2 : 1 jam
Pos 2 - Pos 3 : 10 menit
Pos 3 - Pos 4 : 1 jam 30 menit
Pos 4 - Pos 5 : 40 menit
Pos 5 - Pos 6 : 20 menit
Pos 6 - Pos 7 : 1 jam 45 menit
Pos 7 - Plawangan : 3 jam 30 menit
Plawangan - Puncak : 1 jam

Pesona Tersembunyi 6 Danau di Gunung Semeru

Pesona Tersembunyi 6 Danau di Gunung SemeruGunung Semeru merupakan gunung tertinggi di Jawa dengan ketinggian 3.676 mdpl. Selain untuk pendakian para pendaki yang ingin menggapai puncak abadi para dewa, Gunung Semeru juga menjadi tujuan bagi penikmat alam. Keindahan pegunungan mulai dari hutan, savana dan danau'nya kini menjadi tujuan utama selain puncak Mahameru. 

Terdapat beberapa danau di area Pegunungan Bromo Tengger Semeru yang selalu menjadi tujuan penikmat alam. Namun ada juga danau yang dilarang untuk dijamah.

Berikut adalah danau-danau yang ada di sekitar Gunung Semeru :

1. Ranu Pani

Ranu Pani berada di Desa Ranu Pani yang merupakan desa terakhir sebelum Gunung Semeru. Disini jugalah pendaki bisa mendapatkan jasa guide dan porter untuk pendakian ke Gunung Semeru. Danau ini terletak di ketinggian 2.100 mdpl dengan luas sekitar 0,75 Ha dari luas awal 1 Ha lebih dan menyusut karena laju sedimentasi. Meningkatnya kerusakan lingkungan akibat ulah manusia, luas dan kedalaman Ranu Pani juga mengalami penyusutan.

Sebelum memulai pendakian, pendaki akan melewati Ranu Pani dan Ranu Regulo. Meski ada vila dan pondok penginapan, bermalam di dalam tenda di sekitar Ranu Pani cukup menawan. Suasana alam yang tenang dan hawa dingin akan menemani hingga tampak pemandangan kabut pagi hari bercampur dengan hijaunya permukaan telaga yang dikelilingi padang rumput.
ranu pane
Ranu Pani


2. Ranu Regulo

Ranu Regulo merupakan objek wisata danau alami di dekat Ranu Rani dan berjarak sekitar 500 meter. Pemandangan perbukitan mengelilingi danau jernih ini. Selain Ranu Pani, Ranu Regulo adalah tempat yang cocok untuk bermalam tanpa harus capek mendaki ke Ranu Kumbolo. Lahan kosong yang ada di sekitar danau bisa digunakan untuk camp. Ada sebuah dermaga tanpa kapal di Ranu Regulo. Suasana tenang yang jauh dari keramaian, hijaunya pemandangan sekitar dengan bertenggernya burung-burung liar di pepohonan dengan latar belakang Gunung Semeru akan menambah daya tarik Ranu Regulo.

Ranu Regulo bisa diakses dari Gunung Bromo dengan menyeberangi pasir berbisik dan bukit teletubbies, kemudian naik menuju Ranu Pani dan tinggal menyusuri jalan paving menuju Ranu Regulo yang bisa ditempuh dengan waktu sekitar 15 menit.
ranu regulo
Ranu Regulo
Surganya Gunung Semeru. Itulah sebutan Ranu Kumbolo di kalangan pendaki. Danau Ranu Kumbolo merupakan tempat bermalam favorit yang terletak di bawah pos 4 pendakian Gunung Semeru dengan ketinggian 2.400 mdpl dan bisa ditempuh selama 4 jam pendakian normal dari Ranu Pane.

Selain menyediakan air melimpah bagi para pendaki Gunung Semeru, Ranu Kumbolo adalah tempat favorit untuk menikmati sunrise. Saat ketika matahari mulai terbit di antara dua bukit hijau dan sinarnya membias pada air telaga, itu adalah saat yang ditunggu para pecinta alam yang bermalam di Ranu Kumbolo, apalagi ketika kabut turun berpadu dengan air danau. Pendaki bisa menikmati pemandangan danau dari atas "bukit cinta", karena semakin tinggi, pemandangan tampak semakin indah.
Baca Juga : 
Suhu di Ranu Kumbolo bisa mencapai minus nol derajat. Kadang kabut akan berubah menjadi butiran es, jadi perlu diperhatikan kelengkapan ketika memutuskan bermalam di Ranu Kumbolo.
ranu kumbolo
Ranu Kumbolo


4. Ranu Tompe

Ranu Tompe lebih tidak dikenal dibandingkan tiga danau diatas. Warga setempat menyebut Ranu Tompe sebagai Ranu Lus karena kepercayaan warga sekitar kalau tempat ini adalah kerajaan para lelembut.

Ranu Tompe berada di ketinggian 1.733 mdpl dengan  luas 0,7 Ha. Karena letaknya jauh dari akses manusia (diketahui dari peta kawasan dan citra satelit), masyarakat sekitar enggan menjamah danau ini. Ranu Tompe memiliki keanekaragaman hayati yang banyak dan penting, untuk itulah pihak TNBTS tidak membuka jalur untuk menuju ke Ranu Tompe dan hanya memberi akses untuk tujuan penelitian dengan ijin khusus.
ranu tompe
Ranu Tompe

 

5. Ranu Darungan

Ranu Darungan terletak di Dusun Darungan, Desa pronojiwo, Kec. Pronojiwo, Kab. Lumajang. Masih berada di kawasan hutan TNBTS dengan keunikan tersendiri yaitu bisa mengering dan berair sesuka hatinya. Pada suatu waktu air di danau bisa mengering hingga hampir seluruh dasar danau tampak. Pada waktu yang lain berubah menjadi danau yang sangat indah. 

Ranu Darungan berada di ketinggian 830 mdpl dengan luas 0,25 Ha. Ranu Darungan dikelilingi tebing, hutan yang menjadi rumah satwa-satwa liar. Danau buatan ini diperkirakan dibangun Kolonial Belanda untuk konservasi. Meski dibuka untuk umum namun jarang dikunjungi karena medan yang cukup sulit.
ranu darungan
Ranu Darungan


6. Ranu Kuning

Ranu Kuning diketahui lewat satelit dan cerita warga sekitar meski tidak banyak warga sekitar yang pernah ke Ranu Kuning. Menurut cerita warga, Ranu Kuning adalah danau yang terbentuk karena air hujan. Kabarnya, Ranu Kuning tak berbeda dengan Ranu Tompe yang letaknya jauh dari jalur pendakian dengan akses yang cukup sulit.

Itu adalah 6 Danau yang berada di sekitar Gunung Semeru, lebih tepatnya di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Walaupun letaknya berbeda, namun peraturan harus tetap ditaati untuk tidak berenang dan tetap menjaga kawasan agar tetap bersih. Selamat Berekplorasi !

Eksotisme Alam dan Legenda Unik Telaga Warna Dieng

Telaga Warna Dataran Tinggi Dieng. Dataran Tinggi Dieng merupakan salah satu wisata yang menarik ketika berada di Jawa Tengah. Telaga Warna adalah salah satu destinasi wisata yang sangat terkenal dan merupakan wisata andalan di Wonosobo karena memiliki keunikan serta keindahan alam yang luar biasa.Telaga Warna Dieng yang berada di ketinggian sekitar 2.000 mdpl dengan luas 39,60 Ha, merupakan bekas letusan Gunung Purba Dieng ratusan tahun lalu yang kini sudah tidak aktif.
telaga warna
Telaga Warna Dieng
Telaga Warna berada di wilayah Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Berjarak sekitar 144 km dari Yogyakarta bisa menggunakan jalur menuju Magelang - Wonosobo, lalu dilanjutkan dengan minibus jurusan Wonosobo - Garung - Dieng. Setelah itu bisa menggunakan jasa ojek.

Telaga Warna Dieng dengan permukaan air yang tenang memiliki keunikan dimana warna air telaganya kadang bisa berubah warna dari kehijauan, kekuningan, kebiruan dan berwarna warni. Hal itu disebabkan karena kandungan sulfur yang cukup tinggi di dalam telaga. Sehingga ketika surut, akan nampak bekas air di permukaan berwarna putih. 

Berjalan-jalan santai di sekitar telaga atau bersantai menikmati heningnya suasana telaga adalah hal yang bisa dilakukan. Namun, menikmati Telaga Warna Dieng akan lebih terasa jika naik ke salah satu bukit yang mengelilingi Telaga Warna. Udara sejuk dan bersih ditambah pemandangan Telaga Warna berhias kabut putih akan sangat memikat mata. Telaga warna yang bersanding dengan Telaga Pengilon yang bening berlatar pegunungan hijau akan membuat siapapun enggan beranjak.
telaga warna
Telaga Warna dan Telaga Pengilon
Meski Telaga Warna bersebelahan dengan Telaga Pengilon (arti:cermin), air di Telaga Pengilon ini sangat bening dan bersih tanpa ada campuran belerang, sangat berbeda dengan Telaga Warna. Selain berbeda kondisi airnya, perbedaan kedua  telaga ini adalah akses ke tepi telaga. Menikmati Telaga Warna dari tepian memang sangat mudah, namun tidak dengan Telaga Pengilon. Jika ingin mendekati Telaga Pengilon harus menyusuri rerumputan tinggi hingga sampai ke pinggir telaga, ditandai dengan tanah yang mulai gembur. 
telaga pengilon
Telaga Pengilon
Selain Telaga Warna dan Telaga Pengilon, beberapa candi bercorak hindu dan gua berjajar di tepian telaga. Candi dan gua-gua ini tidak kalah menarik untuk dikunjungi karena mengandung beberapa filosofi menarik. 

Berikut adalah gua-gua beserta legenda yang ada di sekitar Telaga Warna Dieng :

1. Gua Semar Pertapaan Mandalasari Begawan Sampurna Jati

Gua Semar memiliki ruang sekitar 4 meter persegi  yang sering digunakan untuk bertapa. Gua ini konon dijaga oleh Eyang Semar sehingga dinamakan Gua Semar. Gua ini pernah menjadi tempat bertapa para raja Jawa dan pemimpin negara Indonesia. Tahun 1974, Soeharto (mantan presiden RI ke-2) juga bertapa di gua ini.
gua semar
Gua Semar


2. Gua Sumur Eyang Kumalasari 

Di dalam gua ini terdapat sebuah kolam kecil yang airnya sangat jernih dan dingin sehingga disebut Gua Sumur. Airnya yang dikenal dengan  nama Tirta Prawitasari dipercaya mempunyai tuah dan dijaga oleh Eyang Kumolosari. Air dari gua ini sering dimanfaatkan umat Hindu dari Pulau Bali untuk upacara muspe atau mabakti. Selain itu air ini dipercaya bisa membantu menyembuhkan berbagai penyakit dan membuat kulit menjadi halus. 
Baca Juga :
telaga warna
Goa Sumur


3. Gua Jaran Resi Kendaliseto

Dulu menjadi tempat bertapa Resi Kendaliseto. Terdapat legenda yang menceritakan bahwa dulu suatu hari hujan turun sangat deras dan seekor kuda kebingungan mencari tempat berteduh. Dia berlari kesana kemari sampai akhirnyamenemukan sebuah lobang besar dan masuk ke dalamnya. Saat keluar keesokan harinya sudah dalam keadaan bunting. Sekarang ada sebagian orang yang percaya gua ini bisa membantu kaum wanita yang ingin mempunyai keturunan dengan bersemedi di dalamnya.
gua jaran
Gua Jaran


4. Batu Tulis Eyang Purbo Waseso 

Merupakan batu besar di antara Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Bentuknya menyerupai wajah manusia. Konon, bila orang tua yang anaknya belum bisa membaca atau menulis bisa memohon di tempat batu ini berada, maka si anak akan segera bisa membaca dan menulis. 
batu tulis
Batu Tulis
Pesona keindahan alam ditambah dengan wisata sejarah di Telaga Warna Dieng sangat menarik untuk dikunjungi. Telaga Warna merupakan tempat yang paling sering dikunjungi wisatawan di area Dataran Tinggi Dieng selain Gunung Prau

Berwisata ke Dataran Tinggi Dieng tidak cukup jika dilakukan sehari saja. Masih ada beberapa lokasi unik di tempat wisata Dataran Tinggi Dieng seperti Kawah Sikidang yang letupannya bisa dilihat secara langsung, Pencandian Arjuna dan the Golden Sunrise di Gunung Prau dan sebagainya yang semuanya sangat menggoda.  Ada beberapa homestay yang bisa disewa di sekitar lokasi wisata Telaga Warna Dieng dengan harga terjangkau yang akan membuat liburan mengexplore Dataran Tinggi Dieng semakin lengkap, memuaskan dan sempurna.

Petik Jeruk Segar di Agrowisata Jeruk Kabupaten Blitar

Agrowisata Jeruk Kabupaten Blitar. Buah jeruk adalah buah dengan rasa manis yang sangat digemari banyak orang. Jika berkunjung ke Blitar, selain mengunjungi wisata alam dan ziarah, sempatkan berkunjung ke Agrowisata yang ada di Blitar. Selain Kampung Coklat dan Agrowisata Belimbing, Agrowisata jeruk kini menjadi icon agrowisata baru di Kabupaten Blitar dimana pengunjung bisa memilih jeruk manis dengan memetik sendiri.
Agrowisata Jeruk
Agrowisata Jeruk terletak di Desa Slemanan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar. Lokasinya ada di barat kota Blitar dan berbatasan dengan Kabupaten Kediri. Dari kota Blitar menuju ke arah Kediri melewati Srengat. Di depan polsek Udanawu ada pertigaan, belok kanan dan ikuti jalan melewati perkampungan dan sawah penduduk hingga menemukan banner di kiri jalan.

Tergolong agrowisata baru yang mulai dibuka pada Agustus 2015, lokasi agrowisata jeruk hanya ditandai dengan banner yang terpampang di depan halaman, sehingga pengunjung dengan mudah menemukan lokasinya.
Pengunjung akan disambut dengan tanaman jeruk di kanan dan kiri halaman rumah. Untuk menuju ke kebun, pengunjung harus berjalan ke belakang rumah, ke area kebun jeruk.
Halaman Depan Agrowisata Jeruk
Tanaman jeruk yang ada di sekitar lokasi berjumlah sekitar 500 pohon. Dengan lokasi perkebunan seluas 8 Ha, ada sekitar 8.000 pohon jeruk yang ditanam di 10 lokasi berbeda dan tidak terpaut jauh. Kini Agrowisata Jeruk ini masih dalam tahap pengembangan.

Jenis jeruk yang ditanam adalah jeruk kepruk siam. Setiap pohon yang ditanam bisa menghasilkan sekitar 50 Kg jeruk manis. Perawatan yang dilakukan untuk menjaga kualitas jeruk ini adalah pemupukan rutin, penyiraman dan pengecatan dengan fungisida untuk mencegah tumbuhnya jamur. 
Kebun Jeruk
Bulan terbaik untuk petik jeruk adalah antara Agustus - September ketika buah jeruk sudah matang. Untuk membeli jeruk, pengunjung bisa memetik sendiri atau langsung membeli di teras rumah pemilik kebun. Harga yang ditawarkan berbeda tergantung dari ukuran buah yaitu sekitar Rp.4000 - Rp. 11.000. Jika jeruk di kebun tidak ada yang matang, jangan kuatir!, pengunjung tetap bisa membeli jeruk yang ada di rumah pemilik. Selain membeli secara langsung, agrowisata ini juga menerima pesanan buah jeruk untuk reserpsi, reuni dan hajatan.

Ada tempat khusus rekreasi yang dipagari tanaman randu. Dengan tarif masuk Rp.10.000, pengunjung bisa menikmati jeruk yang lebih besar. Suasana yang teduh di area kebun berbatasan dengan persawahan penduduk, sehingga menciptakan suasana nyaman ketika berburu dan petik jeruk manis. 

Baca Juga :